pengunjung

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2017

Sejarah singkat STM/SMK VOCTECH TANGERANG

SEJARAH STM STM VOCTECH TANGERANG

Perkenalkan nama saya Ronald Yos Tridesla angkatan pertama STM Voctec ,memang tak banyak informasi yang saya dapat , tapi setidaknya saya sebagai alumni dr almamter sekolah ini, mencoba menuliskan ini dengan sdikit pengetahuan saya.

Kurang lebih nya saya mohon maaf krn hanya mau peduli sbg alumni

APRIL 1996 : Berdiri STM voctech ibawah naungan yayasan vocational technolody of indonesia (VTI). maka dari itu, terbitlah izin pendirian sekolah no 2110/i.02.1/Kep/OT/2000 dari kanwil Dep. Pendidikan Nasional Propinsi Jawa Barat dengan nama SMK Voctech dengan jurusan
1. OTOMOTIF
2. ELECTRO                                              Pertama Kali melunaskan Angkatan ke -1
Agustus 1999 : ada perubahan nama nama yayasan menjadi voctech widia karismatika.
April 2005 :
Tahun 2009-2010 : Bertambah jurusan yaitu teknik komputer dan jaringan
2012 : akreditasi teknik komputer dan jaringan dengan nilai B
2015 : akreditasi ketiga dengan kompetensi keahlian
1. akuntansi dengan nilai A
2. administrasi perkantoran dengan nilai A
3. Teknik komputer dan jaringan dengan nilai B
2016-2017 : Bertambah jurusan yaitu Teknik Sepeda Motor.             

Jumat, 22 Februari 2013

Tutur sapa halak batak

bagi yang berminat jadi raja parhata silakan pelajari :
tutur-sapa masyarakat Batak:
1. Ahu = aku, saya
2. Anak = anak laki-laki
3. Amang >damang >damang parsinuan =ayah, bapak.
4. Amang, sapaan umum menghormati kaum laki-laki.
5. Amanta >amanta raja, dalam sebuah acara pertemuan.
6. Amanguda, adik laki-laki dari ayah kita.
7. Amanguda, suami dari adik ibu kita.
8. Amangtua, abang dari ayah kita.
9. Amangtua, suami dari kakak ibu kita sendiri.
10. Amanguda/amangtua, suami dari pariban ayah kita.
11. Angkang = abang. Angkangdoli, abang yang sudah kawin.
12. Angkang boru, isteri abang. Kakak yang boru tulang kita.
13. Anggi, adik kita (lk), adik (pr) boru tulang kita.
14. Anggi doli, suami dari anggiboru. Adik (lk) sudah kawin.
15. Anggiboru, isteri adik kita yang laki-laki.
16. Amangboru, suami kakak atau adik perempuan ayah kita.
17. Amangtua/inangtua mangulaki, ompung ayah kita.
18. Ama Naposo, anak (lk) abang/adik dari hula-hula kita.
19. Angkangboru mangulaki, namboru ayah dari seorang perempuan.
20. Ampara, penyapa awal sealur marga, marhaha-maranggi.
21. Aleale, teman akrab, bisa saja berbeda marga.
22. Bao, amangbao, suami dari eda seorang ibu.
23. Bao, inangbao, isteri dari tunggane kita (abang/adik isteri).
24. Bere, semua anak (lk + prp) dari kakak atau adik prp kita.
25. Bere, semua kakak/adik dari menantu laki-laki kita.
26. Boru, semua pihak keluarga menantu lk kita / amangboru.
27. Boru, anak kandung kita (prp) bersama suaminya.
28. Borutubu, semua menantu (lk) / isteri dari satu ompung.
29. Boru Nagojong, borunamatua, keturunan namboru kakek.
30. Boru diampuan, keturunan dari namboru ayah.
31. Bonatulang, tulang dari ayah kita.
32. Bona niari, tulang dari kakek kita.
33. Bonaniari binsar, tulang dari ayah kakek kita.
34. Damang = ayah = bapak
35. Damang, sebutan kasih sayang dari anak kepada ayah mereka.
36. Damang, digunakan juga oleh ibu kepada anaknya sendiri.
37. Dainang, sebutan kasih sayang anak kepada ibu mereka.
38. Dainang, digunakan uga oleh ayah kepada anak perempuannya.
39. Daompung, baoa+boru, kakek atau nenek kita.
40. Datulang, sebutan hormat khusus kepada tulang.
41. Dahahang (baoa+boru), abang kita atau isterinya.
42. Dongan saboltok, dongan sabutuha (sebutan lokal).
43. Dongantubu, abang adik, serupa marga.
44. Dongan sahuta, kekerabatan akrab karena tinggal dalam satu huta.
45. Dongansapadan, dianggap semarga karena diikat oleh padan/janji.
46. Eda, kakak atau adik ipar antar perempuan.
47. eda, sapa awal antara sesama wanita.
48. Hahadoli, sebutan seorang isteri terhadap abang (kandung) suaminya.
49. Haha doli, abang dari urutan struktur, dapat juga tidak semarga lagi.
50. Haha = abang. No. 48 & 49, berbeda sekali artinya.
51. Hahaboru, isteri abang kita, yang dihormati.
52. Haha Ni Hela, abang dari mantu kita.
53. Haha Ni Uhum, paling tua dalam silsilah sekelompok.
54. Hula-hula, keluarga abang/adik dari isteri kita.
55. Hela, menantu (lk) kita sendiri.
56. Hela, juga terhadap suami anak abang/anak adik kita.
57. Hami, sebutan kita terhadap pihak sebelah kita sendiri.
58. Hamu, sebutan atas pihak lawan bicara.
59. Hita, menunjuk kelompok kita sendiri.
60. Halak, menunjuk kepada kelompok orang lain.
61. Ho, kau, terhadap satu orang tertentu, tutur bawah kita.
62. Halak i, dihormati karena pantangan, terhadap bao, parumaen.
63. Ibebere, keluarga dari suami bere kita yang perempuan.
64. Ito, iboto, kakak atau adik perempuan kita, serupa marga.
65. Ito, tutur sapa awal dari lk terhadap prp atau sebaliknya.
66. Ito, panggilan kita kepada anak gadis dari namboru.
67. Iba, = ahu, saya.
68. Ibana, dia, penunjuk kepada seseorang yang sebaya kita.
69. Inang=dainang, ibu. Juga sebutan kasih kepada puteri kita.
70. Inang(simatua)=ibu mertua.
71. Inangbao, isteri dari hula-hula atau tunggane kita.
72. Inanta, sebutan penghormatan bagi wanita, sudah kawin.
73. Inanta soripada, kaum ibu yang lebih dihormati dalam acara.
74. Inanguda, isteri dari adik ayah. Ada juga inanguda marpariban.
75. Inangtua, isteri dari abang ayah. Juga inangtua marpariban.
76. Inangbaju, semua adik prp dari ibu kita, belum kawin.
77. Inangnaposo, isteri dari paraman/amangnaposo kita.
78. Indik-indik, cucu dari cucu prp kita. Sudah amat jarang ada.
79. Jolma, jolmana, = isterinya. Jolmangku = isteriku.
80. Lae, tutur sapa anak laki-laki tulang dengan kita (lk).
81. Lae, tutur sapa awal perkenalan antara dua laki-laki.
82. Lae, suami dari kakak atau adik kita sendiri (lk)
83. Lae, anak laki-laki dari namboru kita (lk)
84. Maen, anak-gadis dari hula-hula kita.
85. Marsada inangboru, abang adik karena ibu kita kakak-adik.
86. Namboru, kakak atau adik ayah kita. Sudah kawin atau belum.
87. Nantulang, isteri dari tulang kita.
88. Nasida, penunjuk seseorang yang dihormati. Atau = mereka.
89. Nasida, halk-nasida, amat diormati karena berpantangan.
90. Natoras, orangtua kandung. Angkola = natobang.
91. Natua-tua, orangtua yang dihormati. Misalnya: amanta natua-tua i.
92. Nini, anak dari cucu laki-laki.
93. Nono, anak dari cucu perempuan kita.
94. Ondok-ondok, cucu dari cucu laki-laki kita. Sudah jarang.
95. Ompung, ompungdoli, ompung suhut, ayah dari bapak kita.
96. Ompungbao, daompung, orangtua dari ibu kandung kita.
97. Ompungboru, ibu dari ayah kita.
98. Pahompu, cucu. anak - anak dari semua anak kita.
99. Pinaribot, sebutan penghormatan kepada wanita dalam acara.
100.Paramaan, anak (lk) dari hula-hula kita.
101.Parboruon, semua kelompok namboru atau menantu (lk) kita.
102.Pargellengon -idem- tetapi lebih meluas.
103.Parrajaon, semua kelompok dari hula-hula dan tulang kita.
104.Pariban, abang-adik karena isteri juga kakak-beradik.
105.Pariban, semua anak prp dari pihak tulang kita.
106.Pariban, anak prp yang sudah kawin, dari pariban mertua prp.
107.Parumaen = mantu prp. isteri anak kita.
108.Pamarai, abang atau adik dari suhut utama, orang kedua.
109.Rorobot, tulangrorobot, tulang isteri (bukan narobot).
110.Sinonduk = suami. Parsonduk bolon = isteri, pardijabu.
111.Simatua doli dan simatua boru = mertua lk dan prp.
112.Simolohon = simandokhon = iboto, kakak atau adik lk.
113.Suhut, pemilik hajatan. Paidua ni suhut, orang kedua.
114.Tulang, abang atau adik dari ibu kita.
115.Tulang/nantulang, mertua dari adik kita yang laki-laki.
116.Tulang naposo = paraman yang sudah kawin.
117.Tulang Ni Hela, tulang dari pengantin laki-laki.
118.Tulang/nantulang mangulaki, panggilan cucu kepada mertua.
119.Tunggane, semua abang dan adik (lk) dari isteri kita.
120.Tunggane, semua anak laki-laki dari tulang kita.
121.Tunggane doli, amang siadopan, amanta jabunami = suami
122.Tunggane boru, inang siadopan, pardijabunami, = isteri.
123.Tunggane huta, raja dalam sebuah huta, kelompok pendiri huta.
124.Tuan doli = suami.
125.Tuan boru = isteri

Minggu, 25 Desember 2011

penulisan x-mast salah,,,? Merry Christmas yups....


INFO INI MUNGKIN tak masuk akal tapi ini cukup tuk mengimani kita arti dari sebuah TULISAN X-MAST........
mau tahu....???baca ni yah...

rasanya memang semua perasaan sukacita campur aduk jadi satu.
Menyambut peringatan kelahiran Sang Juruslamat ke dunia untuk nebus dosa kita.
:""""""""""""")
Semua orang antusias mempersiapkan Natal.
Baju baru, kado natal, santaclaus, pohon natal, lilin dan semua bercorak merah & ijo menuhin semua departement store di dunia :")
Tapi ngelirik sedikit history of Christmas, dimana Yesus lahir di kandang domba yang sederhana. Apa itu kemeriahan yg sebenernya dirayain setiap hari Natal itu? :(
Hampir semua lambang itu ga ada hubungannya sama malem natal yang 2000-an taun lalu di Bethlehem.
Di Alkitab ga ada cerita tentang pohon natal, santa, piet, Rudolph dan teman-temannya itu. Gaada pesta pora, makan besar ato lainnya, tapi cuma ada kehangatan, kesederhanaan, sukacita dan kegembiraan yg luar biasa dgn kelahiran Yesus kita.
Ya tapi ga bisa disalahin, itu lah yg dinamain budaya & kebudayaan :) itu cara masing-masing bangsa merayakan kelahiran Juruslamat. Dan kita salah satunya.

Yang mau aku bagi sekarang itu :
Ucapan natal udah ada dari jaman dulu, dengan kalimat pertama pada kartu nama pertama itu berisikan "Merry Christmas and Happy New Year To You" yang sampai saat ini masih disimpen rapi di musium London.
Yang jadi permasalahan, banyak orang menulis sesuatu tanpa mengerti artinya. Mereka (dan kita) suka menulis kata "Christmas" menjadi "X'mas" dengan alasan lebih singkat dan instant. 
Taukah huruf "X" pada kata X'mas yang sering kita tulis itu menyingkat kata apa? Christ. Ya, Kristus. 
Dengan penggunaan X itu, kita mengganti Kristus (Christ) dengan mister X.
Dalam kamus, X artinya seseorang yang ga dikenal karna identitasnya ga jelas.
Atrtinya, kalo kita tulis ” Merry X’mas ” berarti kita merayakan hari natal mister X, seseorang yang tidak punya identitas, seseorang yang tidak kamu ketahui asal usulnya.
Apakah sebutan mister X itu cocok di berikan untuk Tuhan Yesus Kristus?.
Kalau kamu udah yakinin Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat mu, apa pantes menulis ” Merry X’mas ” di ucapan selamat hari natal yang kamu kirim pada saudaramu seiman?

Jangan pernah lagi menulis Merry X-mas..
Asal usul penyebutan X-mas itu di buat oleh mereka yang tidak percaya pada Yesus Kristus (Jesus Christ) sehingga kata "Christ" pada Christmas mereka ganti dengan kata "X" karena mereka tidak ingin mengucapkan nama Yesus. Inilah perbedaan akan mereka yang merayakan natal tapi tidak ingin percaya pada Yesus dengan kita yang percaya akan kelahiran Juruselamat. Ini juga berdampak pada penyebaran injil yang salah.
X-Mas itu berasal dari Jepang,karena mereka tidak mengenal Tuhan Yesus.Jadi mereka menulis Mr.X untuk Tuhan Yesus yg mereka tidak kenal.

Jika kita sudah tahu hal ini, janganlah kita mengikuti kebiasaan mereka yang salah. Hal simple namun mempunyai dampak yang besar. Sebarkan agar mereka tahu di balik natal yang sesungguhnya ada nama "Christ" yang tidak dapat digantikan dengan apapun..
.
LIAT INI…
>
> X-mas itu singkatan dari CHRISTMAS, sama saja kalau kita menyingkat kata
> "God Bless You" jadi "GBU"
> mengapa dengan huruf "X"?
> Sebenarnya itu bukan huruf latin "X" tapi huruf Yunani "Chi".
> Huruf "Chi" itu aksara Yunaninya adalah "X" (majuscule/ huruf besar) atau
> "÷" (minuscule/ huruf kecil ) memang mirip/ bahkan sama dengan huruf latin
> "X" tapi pengucapannya beda.
> Aksara Yunani "Chi" transliterasinya dalam huruf latin adalah "ch" atau
> "kh"
> Majuscule : ×ÑÉÓÔÏÓ - KRISTUS
> Minuscule : ÷ñéóôïò - kristus
> R.C. Sproul dalam bukunya "Now That's a Good Question" p.364-365, menuli
> "it is not an X but a cross that was the abbreviation, and no disrespect
> Jesus is intended".
> Sumber "The Lutherans" menulis :
> X is an adoption of the Greek letter khi or chi, which is the first letter
> of the Greek word Xristos or Christos. Meaning the Anointed One, it was
> the
> appropriate translation of the Hebrew word Messiah. As such, X in English
> is
> used in written abbreviations such as Xt for Christ, Xtian for Christian,
> Xtianity for Christianity, Xmas for Christmas and so on.
> Singkatan lain yang berkaitan dengan Aksara Yunani "Chi" yang lazim dalam
> kekristenan adalah :
> "÷ñ", singkatan dari kata "Kristen/Christian (Inggris)/ ÷ñéóôéáíïõò
> (Yunani)
> "÷ô", singkatan dari kata "Kristus/Christ (Inggris)/ ÷ñéóôïò (Yunani)
> Maka boleh-boleh saja kata CHRISTMAS disingkat X-mas
> Tidak ada yang perlu dipermasalahkan
> Blessings,

> Ikut2an Bilang Merry Xmas 2006
> Dear All,
> Setiap saya membaca kata2 Merry X'mas di email atau di SMS, saya selalu
> sedih karena banyak orang ikut2an dunia ini menghapuskan "Christ" dari
> "Christmas". Menurut survey di negeri barat, banyak anak-anak tidak tahu
> lagi bahwa ketika Christmas sebenarnya kita sedang merayakan hari
> kelahiran
> Tuhan Yesus Kristus. Itu mungkin terjadi karena orang sudah terbiasa
> dengan
> X'mas, dibandingkan dengan Christmas ...
> Di Turki orang menyebut BCE sebagai ganti BC. BCE artinya Before Common
> Era,
> sebagai ganti Before Christ atau tarikh Sebelum Masehi. Orang di luar sana
> memang selalu ingin menghapuskan Christ dari istilah aslinya.
> Merry Christmas euy !
> Gbu

> > Hi, all..
> > Just wanna wish you a quite peaceful merry xmas. May God loves and care
> > always be with you. Happy Christmas.. =)
Semoga ulasan ini bermanfaat :')
Oia, aku pertama baca mengenai ini di Broadcast Message yang dikirim salah satu temenku lewat blog-blog rohani

link :
http://groups.yahoo.com/group/terangduniamail/message/41911

http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?printertopic=1&t=898&postdays=0&postorder=asc&start=0&finish_rel=-10000

http://shellaapriliashella.blogspot.com/2011/12/wow-h-9-before-christmas.html 

Senin, 05 Desember 2011

Perjalananku menuju jubileum 150 tahun HKBP

Acara Puncak Jubileum 150 Tahun HKBP di GBK
03-12-2011








DENGAN PENUH HIKMAH AKHIRnya kita dapat melaksanakan puncak acara jubileum HKBP DI GBK

Dimana kita tahu dari data statistic dari buku acara / Majalah JUBILEUM 150 tahun HKBP Bahwa jemaat HKBP Dijabotabek lebih banyak dari bonapasogit sendiri.
Saya pribadi berangkat sendiri dari rumah pukul 11 : 05 dari pulau dumpit ini ,tidak berkecil hati dengan senmangat jubileum saya berangkat…… dan meniki patas 138 AC walau perjalanan macet ditengah jalan saya menjumpai rombongan jemaat tomang barat al hasil saya turun dalam keadaan macet dan bergabung bersama mereka dalam mikrolet 66 akhirnya sampai di GBK dan menuju kesana banyak saya menjumpai teman teman lama NHKBP DISTRIK 21 jakarta 3 seperti Alfred itoku maya mahulae,,,dsb…kami pun bersalaman dan kembaliu ke tempat masing-masing

LEBIH dari 100.000 orang jemaat HKBP yang datang dari seluruh Jabodetabek serta utusan dari jemaat lainnya dari luar Jabodetabek seperti dari HKBP Pearaja Tarutung, Medan, Surabaya dan lainnya, acara Ibadah Raya Perayaan Jubileum 150 Tahun HKBP dilaksanakan dengan meriah. Undangan juga datang dari perwakilan,GerejaSedunia,dan,Asia.Suasana di lingkungan Stadion Gelora Bung Karno sangat padat oleh kenderaan pribadi dan bus rombongan. Informasi dari petugas di GBK rombongan sudah mulai berdatangan sekitar jam 10.00 WIB. Padahal acara mulai jam 14.00 WIB. Jemaat yang memakai bus harus turun sekitar 300-500 meter dari pintu masuk dan berjalan kaki menuju,GBK Sesuai dengan Buku Acara yang dibagikan maka acara dimulai pukul 15.50 WIB melalui ibadah raya Jubileum 150 Tahun HKBP yang dipimpin langsung oleh Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Bonar Napitupulu.

Meskipun sebagaian jemaat ada yang kena panas matahari TERUTAMA SEKTOR 8 SAMPAI SEKTOR 11 demikian juga dengan para Pendeta dan fungsionaris HKBP, tetapi sukacita sangat terlihat dari jemaat yang hadir. Jemaat bersemangat mengikuti setiap mata acara ibadah. Hal ini terbukti ketika acara koor di tengah kebaktian disambut aplaus dari jemaat dengan tepuk tangan.Demikian juga dengan khotbah yang dibawakan oleh Ephorus HKBP, dengan kesimpulannya adalah "membangun jati diri HKBP" semakin memperteguh iman dari jemaat HKBP yang hadir.

Sebelum Ibadah Raya berakhir, Ephorus HKBP memberikan penghargaan kepada para mantan Ephorus HKBP maupun kepada keluarganya. Demikian juga kepada perwakilan Gereja-gereja yang selama ini bekerja sama dengan HKBP, diantaranya Ulrich Bayer dari UEM Jerman.serta juga NU dan MUHAMADIYAH.


Selesai ibadah pun usai kami bersorak sorai bahkan NHKBP PERUMNAS TANGERANG TEMPAT SAYA bergabung kami membayo semua,diantaranya PANTAS MANALU,ARNOLD HUTASOIT ,BIGMAN SIMATUPANG,HESTY TOBING,ERNI SIMANUNGKALIT,LEO SARAGIH,SAMUEL/GIOX SIANTURI, HKBPSERTA lae dan adek.adeku,ROSONDANG,ROINTAN,ROSYESKI,JHONY MASTER SIPAYUNG, SERTA lainya yang lum dapat saya sebutkan dalam meriiahnya jubileum 150 TAHUN

Kadang kami tetawa dan bercanda ria bersama.bahkan melakukan hal yang lucu seperti teriak INDONESIA.,,,,,,GOLLLLL…..AYO TIBO,,,,,,,, seolah kami sedang menonton bolaaaa……..ghuhahahahhaa….Bahkan saya minta BB adek saya tuk ambil beberapa poto tuk moment sendiri berjalan dari SEKTOR 4 KE SEKTOR 1 tempat dimana pak beye ada dansaya melihat beberapa INTEL dan para sniper yang sangat menakutkan,,,,

Selanjutnya Presiden RI, Bapak SBY tiba pukul 16.00 WIB. Seluruh jemaat yang hadir memberikan applaus sambutan yang hangat kepada pemimpin Indenesia tersebut. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa kehidupan beragama harus semakin diperkuat demi menciptakan masyarakat yang beradab, dan Bapak Presiden juga menghimbau agar masyarakat HKBP tetap menjaga keharmonisan di antara masyarakat yang pluralistik. Pada kesempatan ini Ephorus HKBP juga mangulosi Bapak Presiden BEYE

Acara perayaan Jubileum 150 Tahun selanjutnya menampilkan tarian/tortor Batak modern yang diikuti ole 2.000 orang penari yang dikumpulkan dari seluruh napos HKBP se Jabodetabek. Acara ini sangat menghibur tidak hanya untuk jemaat HKBP tetapi juga buat bpaka Presiden RI. Applaus dari jemaat seperti tidak ada putusnya setiap kali penari tersebut membentuk satu konfigurasi. Cukup hebat dan memukau tarian yang ditampilkan. Terakhir konfigurasi tortor membentuk SALIB didepan undangan VIP. Jemaat HKBP pun serentak langsung memberikan sambutan tepuk tangan yang meriah. Maka ketika MC mengatakan Bapak Presiden akan meninggalkan stadion, para jemaat hampir tidak mengetahuinya karena laarut dengan applaus untuk konfigurasi tersebut.dan kepergian dari BAPA Beye dilepaskan dengan tor-tor konfigurasi SALIB dan mendadakan Kepergian bapa beye

Kemudian acara dilanjutkan dengan selingan oleh artis top ibukota, diantaranya putrid ayu,victor hutabarat,judika sihotang serta artis artis batak serta trio trio bataknamun tak semuanya dapat bernyanyi tuk memberikan hiburan..dikarenakan cuaca hujan hanya Putri Ayu saja yang sempat menghibur dan bernyanyi Artis ini memang luar biasa. Saya sendiri baru ini pertama melihatnya. Benar-benar anak yang mempunyai talenta dari Yesus. DAN artis yang lainnya tak dapat meneruskan hiburan namun meriah jubileum ini tetap teringat dan bermakna ,,,,

Walaupun hujan tidak mengurangi makna dari JUBILEUM 150 tahun HKBP

Horassss.

Horas…….

Penulis : ronaldyos


https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150496026276830 

Senin, 20 Juni 2011

Genoside dilakukan oleh jihad Padri di sekitar danau Toba dipimpin oleh Tuanku Rao

Untuk latar belakang sejarah saya hadir Anda mengutip tentang Pongkinangolngolan alias Tuanku Rao kemudian baru dikonversi Batak yang memimpin teror pertama untuk Padri Minangkabau antara 1816-1821, http://batarahutagalung.blogspot.com/2008/01/beberapa-catatan-mengenai -Tuanku-rao.html



Genoside dilakukan oleh jihad Padri di sekitar danau Toba dipimpin oleh Tuanku Rao, mengikuti arah Tuanku Nan Renceh dari Bukittinggi macet sama sekali pada tahun 1820. Hal ini karena banyak yang mati jihad dari wabah kolera dan wabah dan sampar. Dari 150.000 tentara asli Padri yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya sekitar 30.000 meninggalkan dua tahun kemudian. Sebagian besar tidak terbunuh dalam pertempuran, tetapi meninggal karena berbagai penyakit.

jihad Padri menyerang lagi untuk kedua kalinya pada tahun 1827, langsung di bawah kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol siap untuk melanjutkan attrocities mereka. Itu karena Tuanku Rao telah dibunuh sebelumnya dalam pertempuran Air Bangis tahun 1821. Kali ini serangan Padri dengan kekuatan yang lebih besar dan dengan persiapan yang lebih baik. Namun ketika berkemah di Pahae, bahkan sebelum memasuki lembah Silindung, berbagai elemen masyarakat Batak bersama-sama dengan pasukan keamanan yang ada di sana, menghancurkan Padri. pasukan Padri mundur sepenuhnya dari tanah Batak pada tahun 1833 dan berjuang sampai pada saat wafatnya di Bonjol Pasaman 1837. Tuanku Imam Bonjol sendiri meninggal di pengasingan pada tahun 1864.



Untuk ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus karena Ia terhindar dari suku Batak dan membuka hati mereka untuk kabar baik dari Injil Kudus sekitar 40 tahun kemudian.



Yesaya 1:24

Oleh karena itu Tuhan, TUHAN Maha Kuasa,

Yang Mahakuasa Israel, menyatakan:

"Ah, saya akan mendapatkan bantuan dari musuh saya

dan membalas dendam diriku pada musuh-musuhku.



Ameen

Dame na sian KRISTUS Yesus ma dihita saluhutna

Selasa, 26 Oktober 2010

Sisingamangaraja XII

Banyak yang sudah tau, bahkan dunia banyak mengenal namanya. Sisingamangaraja, Raja orang Batak. Beliau mengaturkan hukum, adat, ketetaprajaan dengan konsep bius yang disempurnakan. Beliau menegakkan HAM, membebaskan orang dari pasungan, memberi pengampunan hukuman bagi yang bertobat dari kesalahan.

Lahir di Tombak Sulu-sulu Bakkara. Tempat yang indah, sebuah lembah di tepian Danau Toba yang dilintasi sungai Aek Silang dan Aek Simangira yang bertemu di Onan Lobu. Istana kerajaan pertama sekali dibangun di sekitar Onan Lobu. Disana masih ditemukan tanda sejarah berupa Hariara Parjuragatan dan Batu Hundulan. Kemudian Istana Kerajaan dibangun lebih ke hulu yang kemudian disebut Lumbanraja.

Lumbanraja sempat menjadi satu wilayah desa, namun saat ini Nama Desa itu dirobah menjadi Desa Simamora. Hilanglah aspek kesejarahan bahwa disitu dulunya ada perkampungan Raja Sisingamangaraja yang disebut Lumbanraja.

Upaya untuk menghilangkan legenda kerajaan Sisingamangaraja pun berlanjut. Kompleks istana diserobot oleh penduduk dan enggan untuk meninggalkannya. Penghargaan untuk kesakralan istana itu juga dihilangkan. Tidak hanya oleh penduduk setempat, keutuhan keluarga turunan Sinsingamangaraja pun sulit dipadukan. Sering beda pendapat.
Pemerintah mencoba untuk membangun istana tersebut. Master Plan sudah disusun. Keluarga dan masyarakat yang masih menghargai dan menghormati Sisingamangaraja juga sudah menyepakati. Tata karma kerajaan harus dipenuhi. Namun yang terjadi, bangunan yang dibangun pemerintah asal jadi. Dalam waktu satu tahun ada yang rubuh, sebagian yang sisa terancam rubuh. Dana rehab pun diupayakan, hasilnya tetap tidak memenuhi kualitas kesakralan bangunan yang diharapkan sewaktu penyusunan master plan. Kenapa ?

Turunan Siraja Oloan lebih dulu menunjukkan kekuatan mengingkari kesakralan kompleks istana. Mereka membangun monument Siraja Oloan yang besar dihadapan “Sogit” Sisingamangaraja yang seharusnya bebas mengarah matahari terbit. Didalam sogit itu dulunya Sisingamangaraja memanjatkan doa kepada Mulajadi Nabolon. Ada lambang burung “Patiaraja” diatasnya.
Dengan adanya monument Siraja Oloan dihadapannya ibarat “sibongbong ari” menghambat arah sogit menyambut matahari terbit.

Siraja Oloan adalah rumpun marga termasuk Sinambela. Sinambela adalah rumpun marga termasuh Bona Ni Onan. Bona Ni Onan adalah yang menurunkan “lahiriah” Raja Manghuntal, Raja Sisingamangaraja I dan berturut-turut hingga 12 dinasti.

Bila rumpun terdekat “hasuhuton” pemangku kerajaan Sisingamangaraja tidak memperdulikan kesakralan peribadatan dan kompleks istana Raja Sisingamangaraja, lalu siapa lagi?

Bakkara, kelihatannya tidak memberikan ruang kepada pelestarian nilai sejarah Sisingamangaraja. Namun penghormatan masyarakat Batak di luar Siraja Oloan dan di luar Bakkara kepada Sisingamangaraja, tetap masih ada. Saat pemindahan tulang belulang Sisingamangaraja XII dari Tarutung misalnya, Balige sangat respon dan memberikan lokasi di Soposurung. Saat monument srikandi Lopian, putri Sisingamangaraja XII hendak dibangun, masyarakat Porsea respon dan memberikan lokasi di depan Kantor Camat Porsea. Walau akhirnya diketahui, sebagian keluarga Sisingamangaraja tidak sepakat pembuatan patung Lopian ditempatkan di Porsea.

Desa Lumbanraja telah dirobah menjadi Desa Simamora. Kompleks istana menjadi ajang orientasi proyek pelestarian yang tidak jelas juntrungannya. Penduduk dan keturunan Sisinganamngaraja masih enggan menyesuaikan dengan tata ruang yang sudah ada. Muncul bangunan baru tanpa sepengetahuan keluarga. Kuburan baru yang disesakkan didepan bangunan baru fasilitas istana. Runyam, pengertian dari kata “rundut” ibarat “jambulan ni parsigira”.

Bakkara saat ini tidak ada meninggalkan setitik pun sisa sejarah kearifan menandakan darisana dulu ada Raja Sakti yang sohor yaitu Sisingamangaraja. Hanya ada tanah dan batu, dan diberi tanda, disini dan disitu. Penduduk tidak memiliki nilai lebih sejarah, tradisi dan tata krama kerajaan.

Tak heran, bila masyarakat batak “heran”, kenapa kompleks istana ini dibiarkan seperti ajang rebutan proyek dan klaim pribadi?

Sisingamangaraja XII dulunya sudah tau akhir perjuangannya. Sebelum melakukan gerilya ke hutan belantara, diberikan amanat kepada Sionom Ompu (enam pemangku adat dari enam marga yang ada di Bakkara) dengan penitipan barang pusaka kerajaan. Seharusnya mereka dan keluarga Raja Sisingamangaraja menjadi “pemangku” tradisi Sisingamangaraja. Apa reaksi Sionom Ompu? Tentu saja keutuhan keluarga raja Sisingamangaraja harus terlihat. Arah dan tujuan pemugaran Istana Sisingamangaraja harus diemban keluarga. Mereka seharusnya didepan “manghobasi” memulai melaksanakan hajat itu. Pemerintah hanya mendukung, dan dukungan dari masyarakat kemungkinan lebih besar lagi.

Punguan Siraja Oloan

Tarombo ni Siraja Batak

Tarombo ni Siraja Batak
Posted on October 23, 2010 by simbolonjr

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon

GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
* Putra (sesuai urutan):
1. Raja Uti (atau sering disebut Si raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng, Raja Hatorusan, Raja Hasaktian,…), keturunannya kearah Barus mereka banyak tidak menggunakan marga.
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)
3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).
4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)
5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)

*Putri:
1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)
2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon
3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)
4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).

Tatea Bulan artinya “Tertayang Bulan” = “Tertatang Bulan”. Raja Isombaon (Raja Isumbaon)

Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Batak dapat dibagi atas 2 golongan besar:
1. Golongan Tatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.

2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.

Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.

PENJABARAN

RAJA UTI
Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng Raja Hatorusan, Raja Hasaktian,…). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual tetap berpusat pada Raja Uti.

* SARIBURAJA
Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu perempuan satunya lagi laki-laki).

Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.

Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.

Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi “istrinya” di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.

Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si raja babiat. Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.

Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.

SI RAJA LONTUNG
Putra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu:
* Putra:
1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
2. Sinaga raja, keturunannya bermarga Sinaga.
3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
4. Toga nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.

* Putri :
1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.
2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.
Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora.

Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.
Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.

SINAGA
Dari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.

PANDIANGAN
Lahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.

NAINGGOLAN
Lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.

SIMATUPANG
Lahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.

ARITONANG
Lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.

SIREGAR
Llahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.

* SI RAJA BORBOR
Putra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor.

Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :
Datu Dalu (Sahangmaima).
Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.
Harahap, keturunannya bermarga Harahap.
Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.
Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.
Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.

Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :
Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.
Tinendang, Tangkar.
Matondang.
Saruksuk.
Tarihoran.
Parapat.
Rangkuti.

Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.

Limbong Mulana dan marga-marga keturunannya
Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.

SAGALA RAJA
Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.

SILAU RAJA
Silau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:
Malau
Manik
Ambarita
Gurning

Khusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra:
I. Ambarita Lumban Pea
II. Ambarita Lumban Pining

Lumban Pea memiliki dua anak laki-laki
1. Ompu Mangomborlan
2. Ompu Bona Nihuta
Berhubung Ompu Mangomborlan tidak memiliki anak/keturunan laki-laki, maka Ambarita paling sulung hingga kini adalah turunan Ompu Bona Nihuta, yang memiliki anak laki-laki tunggal yakni Op Suhut Ni Huta. Op Suhut Nihuta juga memiliki anak laki-laki tunggal Op Tondolnihuta.

Keturunan Op Tondol Nihuta ada empat laki-laki:
Op Martua Boni Raja (atau Op Mamontang Laut)
Op Raja Marihot
Op Marhajang
Op Rajani Umbul

Selanjutnya di bawah ini hanya dapat meneruskan tarombo dari Op Mamontang Laut (karena keterbatasan data. Op Mamontang Laut menyeberang dari Ambarita di Kabupaten Toba Samosir saat ini ke Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Hingga tahun 2008 ini, keturunan Op Mamontang laut sudah generasi kedelapan).

Op Mamontang Laut semula menikahi Boru Sinaga, dari Parapat. Setelah sekian tahun berumah tangga, mereka tidka dikaruniai keturunan, lalu kemudian menikah lagi pada boru Sitio dari Simanindo, Samosir.

Dari perkawinan kedua, lahir tiga anak laki-laki
Op Sohailoan menikahi Boru Sinaga bermukim di Sihaporas Aek Batu
Op Jaipul menikahi Boru Sinaga bermukin di Sihaporas Bolon
Op Sugara atau Op Ni Ujung Barita menikahi Boru Sirait bermukim di Motung, Kabupaten Toba Samosir.

Keturunan Op Sugara antara lain penyanyi Iran Ambarita dan Godman Ambarita

TUAN SORIMANGARAJA
Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.
Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.
Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).

Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.

Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.

Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)

Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya.

Nai Ambaton mempunyai lima orang putra, dan satu orang putri yaitu:
Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon. Bagi yang ingin mendalami diyakini Ompung Simbolon Tua inilah yang disebut dengan Ompung Pangultop yang terdapat dalam kisah Sileang Leang Nagurasta.
Tamba Tua, keturunannya bermarga Tamba.
Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.
Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).
Nahampun.


Dan Putrinya

1. Uli Bulung. Namboru ini tidak menikah sehingga tidak mempunyai keturunan. Semasa hidupnya belajar dan ahli dalam mengobati. Dia masih datang melalui sorangannya untuk mengobati hingga saat ini.

Dari kelima marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku ” Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung):

SIMBOLON
Lahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.

TAMBA
Lahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu.

SARAGI
Lahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.

MUNTE
Lahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.

NAHAMPUN

Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluh-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.

Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.

Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut:
Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.
Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin.
Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit.
Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)
Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.

Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:

Raja Mardopang
Menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.

Raja Mangatur
Menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.

NAI SUANON (tuan sorbadibanua)
Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua.

Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.
Dari istri pertama (putri Sariburaja):
Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.
Si Paet Tua.
Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.
Si Raja Oloan.
Si Raja Huta Lima.

Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :
a. Si Raja Sumba.
b. Si Raja Sobu.
c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.

Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan – Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat.

Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.
Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
Tampubolon, Barimbing, Silaen.
Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.
Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.
Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.

Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:
Hutahaean, Hutajulu, Aruan.
Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.
Pangaribuan, Hutapea.

Keturunan si lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
Sihaloho.
Situngkir, Sipangkar, Sipayung.
Sirumasondi, Rumasingap, Depari.
Sidabutar. Sinabutar (atas koreksian @Soeguest dan @Binsar Sitio) *)
Sidabariba, Solia.
Sidebang, Boliala.
Pintubatu, Sigiro.
Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.

Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa.
Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga.
Bangkara.
Sinambela, Dairi.
Sihite, Sileang.
Simanullang.

Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut:
Maha.
Sambo.
Pardosi, Sembiring Meliala.

Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut:
Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.
Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.

Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:
Sitompul.
Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.

Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:
Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.
Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.

(Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana.

***
DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).

Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:

“Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;
Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan”

artinya:

“Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);
Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji”

Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:
Marbun dengan Sihotang
Panjaitan dengan Manullang
Tampubolon dengan Sitompul.
Sitorus dengan Hutajulu – Hutahaean – Aruan.
Nahampun dengan Situmorang.

Jumat, 17 September 2010

Tuanku Rao dan Perang Paderi

Beberapa Catatan mengenai Tuanku Rao dan Perang Paderi
Oleh Batara R Hutagalung
Disampaikan dalam Seminar “Perang Paderi, 1803 – 1838. Aspek Sosial Budaya, Sosial Psikologi, Agama dan Manajemen Konflik."
Di Arsip Nasional RI, Jakarta, 22 Januari 2008.

Pendahuluan
Sejak terbit pertama kali tahun 1964, buku karya Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP), ‘Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak. 1816 – 1833.’ telah menuai banyak kritik dan sanggahan. Sanggahan tertulis pertama datang dari HAMKA dengan bukunya yang berjudul: Antara Fakta Dan Khayal. “TUANKU RAO.” Secara garis besar HAMKA menyebutkan, bahwa isi buku MOP 80 % bohong dan 20 % meragukan.
Cetakan kedua buku MOP terbit pada bulan Juni 2007, dan buku yang langsung memberikan sanggahan terhadap buku tersebut ditulis oleh Basyral Hamidy Harahap, dengan judul ‘Greget Tuanku Rao.’
Selain kedua buku tersebut, berbagai silang pendapat dan kontroversi mengenai Tuanku Rao dan Perang Paderi muncul dalam berbagai tulisan, baik di media massa maupun di internet.
Mengenai sosok dan asal-usul Tuanku Rao sendiri terdapat beragam versi. Namun kelihatannya tak satupun yang dapat mengklaim, bahwa pendapatnyalah yang paling benar, karena semua versi hanya bedasarkan cerita rakyat atau cerita keluarga yang tidak dapat melampirkan dokumen yang otentik, termasuk yang dikemukakan oleh HAMKA. Dalam bukunya, HAMKA menyebut suatu sumber Belanda, J.B. Neumann, Kontelir BB, yang menyebut bahwa Tuanku Rao berasal dari Padang Matinggi, bukan orang Bakkara. Sumber Neumann juga orang Belanda, Residen T.J. Willer. (Hlm. 239)
Sumber lain yang disebut oleh HAMKA adalah Asrul Sani, yang juga menyebut bahwa Tuanku Rao adalah orang Padang Matinggi. Namun tidak disebutkan, dari mana sumber informasinya. (Hlm. 240)
Bahkan Sanusi Pane menganggap, bahwa Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai adalah orang yang satu itu juga. (Hlm. 242)
Selain mengenai sosok Tuanku Rao, HAMKA juga membantah keterangan mengenai sejumlah tokoh yang ditulis oleh MOP dalam bukunya. Juga HAMKA membantah segala bentuk kekerasan dan perkosaan terhadap perempuan Batak.
Buku BHH ‘Greget Tuanku Rao’ membantah beberapa hal yang ditulis oleh MOP, namun dia membenarkan terjadinya tindak kekerasan seperti perkosaan yang dilakukan oleh tentara Paderi.
Bantah membantah mengenai suatu tulisan atau peristiwa adalah hal yang biasa, juga dalam penulisan sejarah. Banyak kalangan dari etnis Jawa membantah adanya Perang Bubat yang terjadi pada tahun 1357. Namun kenyataannya, di kota-kota di Jawa Barat tidak ada nama jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk atau Majapahit, karena di masyarakat Sunda, berkembang cerita sebagimana tertulis dalam Kidung Sunda.

Tuanku Rao Dalam Turi-Turian Batak
Di masyarakat Batak, baik Mandailing, Angkola, Sipirok, Padang Lawas maupun Toba, cerita rakyat dikenal sebagai turi-turian atau cerita yang dituturkan oleh seorang Bayo Parturi. Turi-turian yang juga diceritakan turun temurun oleh para orang tua kepada anak-cucunya dapat bersumber dari peristiwa yang benar-benar terjadi, tetapi bisa juga legenda atau hikayat, yang hanya merupakan produk fantasi dari nenek moyang.
Walaupun etnis Batak memiliki aksara sendiri yang dinamakan ‘Surat Batak’, namun sangat sedikit sastra Batak yang dituliskan dengan Surat Batak. Pada umumnya, Surat Batak digunakan untuk menuliskan ilmu kedukunan dan surat-menyurat, dan di beberapa daerah, antara lain di Karo, Angkola dan Simalungun, Surat Batak digunakan untuk menuliskan syair. Hal ini yang menyebabkan, banyak turi-turian tidak ditulis dalam Surat Batak, melainkan hanya melalui penuturan secara lisan turun-temurun dari nenek moyang ke anak cucu, atau dituturkan oleh Bayo Partuturi.
Mengenai asal-usul Tuanku Rao, terdapat beberapa versi. Versi yang paling banyak berkembang adalah versi yang ditulis oleh Mangaraja Onggang Palindungan (MOP) dalam bukunya ‘Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak. 1816 – 1833.’
Dalam buku ini disebutkan, bahwa Tuanku Rao adalah anak hasil hubungan gelap dari Gana boru Sinambela, putri Singamangaraja IX dengan paman kandungnya sendiri, Gindoporang Sinambela, adik dari Singamangaraja X.
Ketika Gana Sinambela hamil akibat hubungan dengan pamannya, kehamilan ini diketahui oleh ayahnya. Untuk menutup aib ini, Gindoporang dan Gana diasingkan ke Singkil, Aceh, karena untuk hamil di luar nikah, apalagi hasil hubungan dengan keluarga sendiri (incest), sanksinya adalah hukuman mati.
Di Singkil, Gindoporang masuk agama Islam dan mengambil nama Muhammad Zainal Amirudin Sinambela. Gana sendiri tidak bersedia masuk Islam, dan tetap menganut agama Batak, Parmalim. Ketika putra mereka lahir, Gindoporang memberikan nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela. Oleh ibunya, dia diberi nama Pongki Na Ngolngolan yang artinya adalah Fakih yang menunggu-nunggu, karena Gana masih berharap, suatu hari akan dapat kembali ke Tanah Batak.
Setelah Singamangaraja IX meninggal, dia diganti oleh putranya, yang menjadi Singamangaraja X. Singamangaraja X memanggil kembali adiknya, Gana Sinambela bersama putranya, Pongkinangolngolan.
Beberapa Datu (dukun) di Bakkara yang mengetahui mengenai asal-usul Pongkinangolngolan meramalkan, bahwa suatu hari dia akan membunuh Singamangaraja X. Oleh karena itu mereka mendesak, agar Pongkinagolngolan dihukum mati.
Pongkinangolngolan dapat menyelamatkan diri dan mengembara sampai ke Mandailing, di mana dia kemudian menjadi anak didik Tuanku Nan Renceh. Setelah masuk Islam, namanya diganti menjadi Umar Katab. Nama Katab apabila dibaca dari belakang menjadi Batak. Umar Katab ini kemudian bergelar Tuanku Rao. Demikian asal-usul Tuanku Rao menurut versi MOP.
Versi lain menyebutkan, bahwa Tuanku Rao adalah putra dari Nai Napatihan, putri Singamangaraja X, yang menikah dengan putra Ompu Palti Raja dari marga keturunan Si Raja Lontung. Nai Napatihan dan Suaminya yang putra pejabat lembaga Ompu Palti Raja tersebut, diungsikan secara santun oleh Sisingamangaraja X ke Singkil, Aceh, agar tidak menjadi saingannya di kemudian hari. Dalam pengungsian lahirlah seorang anak yang bernama Pongkinangolngolan yang kemudian dikenal bernama Fakih Amiruddin.
Juga ada versi yang menyebutkan bahwa Ibunya adalah Nai Napatihan Sinambela yang menikah dengan seorang putra Aceh dan kemudian diusir dari tanah Batak.
Ada versi lain yang ditulis oleh seorang sarjana Batak dalam disertasinya di UGM, yang menyatakan bahwa Pongkinangolngolan bukanlah Tuanku Rao, tapi orang yang berbeda. Pongkinangolngolan bersama Tuanku Rao berseteru dengan Sisingamangaraja X dalam sebuah konstalasi politik saat itu.
(lihat weblog: http://islamkaro.blogspot.com/2006/11/perkawinan-inses.html)
Dalam bukunya Antara Fakta Dan Khayal “TUANKU RAO”, HAMKA menulis, bahwa Tuanku Rao berasal dari Padang Matinggi, Rao Padang Nunang. (Hlm. 240).
Imam Bonjol sendiri menulis dalam catatan hariannya, bahwa Tuanku Rao berasal dari suatu desa di Mandailing (sebagaimana disampaikan oleh Dr. Phil. Ichwan Azhary dalam diskusi ‘Hikayat Tuanku Rao dan Kilas Balik Perang Paderi’ di Medan, 24 November 2007 dan di Pematang Siantar, 26 November 2007). Namun tidak diterangkan lebih lanjut mengenai asal-usul Tuanku Rao. Mungkin Imam Bonjol hanya mengetahui, bahwa Tuanku Rao datang dari suatu desa di Mandailing dan tidak mengetahui lebih lanjut mengenai asal-usulnya apakah memang asli dari daerah tersebut.

Agresi kaum Paderi ke Sumatra Utara
Mengenai agresi kaum Padri ke Tanah Batak yang dikenal di kalangan Batak sebagai “Tingki Ni Pidari” atau “Zaman Padri”, dua sesepuh Batak, Drs Muara Sitorus dan Edith Dumasi Nababan, SH, yang hadir dalam diskusi ‘Hikayat Tuanku Rao dan Kilas Balik Perang Paderi’ yang diselenggarakan di Sekretariat Plot (Pusat Latihan Opera Batak) Siantar, pada Senin 26 November 2007, memberikan kesaksiannya: (Dikutip dari harian METRO SIANTAR edisi 27, 28 dan 29 November 2007).
“... Drs Muara Sitorus, seorang mantan guru, misalnya, menyatakan sangat senang saat harian METRO SIANTAR menulis kisah Perang Paderi dan 'cerita kelam' dalam keluarga Dinasti Singamangaraja, sebanyak empat seri. "Saya tak menyangka, di zaman sekarang masih ada orang yang peduli dengan kisah sejarah di masa lalu. Terima kasih METRO," kata tokoh masyarakat asal Porsea yang merantau ke Siantar, mengawali ( terima kasih kembali, Pak, red).
Selanjutnya ia mengatakan, fakta sejarah yang ditulis Parlindungan dalam buku Tuanku Rao, sudah lama didengarnya, jauh sebelum buku Tuanku Rao terbit. "Saya sudah lama mendengar kisah mengenai Tingki ni Pidari. Itu adalah kisah mengenai Pasukan Paderi menyerang Tanah Batak. Dari peristiwa Tingki ni Pidari inilah, muncul istilah Monjo (mirip dengan bunyi Bonjol). Monjo ini adalah sebutan orang Batak menyebut Pasukan Paderi," katanya.
Kalau pasukan Paderi datang, orang-orang akan berteriak "Monjo datang...Monjo datang!" "Kalau ada teriakan Monjo, itu menjadi pertanda bagi orang-orang Batak yang mendengarnya, untuk lari ke hutan menyelamatkan diri," katanya. Kisah ini didengarnya dari orang-orangtua, yang diceritakan secara lisan. Karena itu, Drs Muara Sitorus senang dengan penerbitan buku Tuanku Rao, dan menegaskan, kalau kisah di dalamnya adalah fakta sejarah.
Mendukung pernyataan Drs Muara Sitorus, Ibu Edith Dumasi Br Nababan, mantan Hakim Agung yang hadir dalam diskusi di Sekretariat PLOt itu mengatakan, Tingki Ni Pidari itu sungguh benar terjadi. "Saya sudah lama mendengar kisah mengenai kisah Tingki Ni Pidari. Dan seperti dikatakan Pak Sitorus, pasukan Imam Bonjol itu disebut Monjo. Kalau Monjo datang, seluruh orang Batak haruslah berlari menyelamatkan diri ke hutan," katanya.
Sayangnya, hanya anak-anak,wanita, dan pria yang tengah bekerja di sawah yang sempat melarikan diri ke hutan. Sementara yang tinggal di rumah, umumnya perempuan-perempuan cantik yang bekerja menenun ulos/kain, tak sempat kabur.
Untuk memaksa orang-orang yang sembunyi di rumah agar keluar, Pasukan Paderi pun membakar rumah-rumah. Semua perempuan yang bersembunyi dalam rumah terpaksa keluar, daripada terpanggang hidup-hidup. "Itulah makanya, rumah-rumah Batak habis di daerah Silindung. Hanya di Toba saja yang masih tersisa sedikit," katanya ...

... Yang melarikan diri ke hutan, sebagian besar mati kelaparan. Hanya yang kuat-kuat dan umumnya tak cantik, yang bertahan selamat. "Itulah sebabnya, perempuan-perempuan Batak yang cantik baru ada sekarang ini. Itu karena yang cantik-cantik sudah mati dipancung atau diperkosa oleh Monjo, atau kelaparan di hutan. Hanya perempuan-perempuan kuat dan berbadan tegap, yang umumnya tak begitu cantik yang berhasil bertahan hidup di hutan. Makanya perempuan-perempuan Batak sampai waktu yang cukup lama, umumnya tak cantik. Sekarang saja, baru ada perempuan Batak yang cantik," kata Ibu Edith Dumasi Br Nababan, yang masih saudara kandung dengan Dr SAE Nababan, mantan Ephorus HKBP.
Selain membenarkan adanya kisah mengenai Tingki ni Pidari yang disebutnya sebagai masa kelam di Tanah Batak --seperti diceritakan oleh Parlindungan dalam buku Tuanku Rao-- Ibu Edith Nababan yang juga istri Ir Sahat Lumban Tobing (alm) ini mengatakan, kisah mengenai Pongkinangolngolan Sinambela alias Tuanku Rao, adalah benar merupakan bere (keponakan) Singamangaraja X. Tapi karena Pongkinangolngolan memiliki kekuatan batin/spiritual, sejumlah datu di Bakkara mengatakan dia harus diusir/dibunuh. Itulah kisahnya maka dia terusir hingga ke Minang.
"Mertua dari mertua saya masih keturunan Dinasti Singamangaraja. Dan saya ada mendengar keberadaan Pongkinangolngolan sebagai bere Singamangaraja X, yang membunuh tulangnya (paman – red) itu," kata mantan Ketua Pengadilan Tinggi di Lampung yang juga pernah menjabat sebagai wakil Ketua Pengadilan Tinggi di Jawa Baratdan di Kalbar ini.
Caranya, Pongkinangolngolan yang sudah begelar Tuanku Rao, mengirim pesan ke Tulang-nya, untuk menerima pisau sebagai hadiah. Namun saat Tulangnya datang dari Bakkara, Pongkinangolngolan memeluk Tulang-nya itu dan menikamnya hingga tewas (versi MO Parlindungan, Singamangajara X dibunuh Jatengger Siregar).
Dari sana, Pasukan Paderi menyerang kampung Tulang-nya di Bakkara, dan menjarah harta benda, seperti perhiasan, baju, ternak, untuk logistik tentara. "Itulah cerita yang saya dengar dari ayah saya. Bahkan bibi dari ayah saya adalah salahsatu yang sempat ditawan Pasukan Paderi, yang berhasil melarikan diri dengan mengikuti aliran Aek Sigeaon," kata ibu Edith Nababan (yang selanjutnya diwawancarai METRO).
Saat epidemi penyakit merajalela, Pasukan Paderi mundur dari Tanah Batak. Namun sebagian memilih tinggal di Silindung, di daerah Sosorpadang, dan sampai sekarang masih ditempati oleh orang Padang yang Islam. "Sampai saat ini mereka tidak pernah diganggu," kata ibu yang saat ini menjabat sebagai Ketua Paguyuban Darma Wulan (Warga Usia Lanjut) cabang Medan.
Ibu Edith juga mengaku, sempat kenal dengan Sutan Martua Raja, ayah MO Parlindungan, si penulis buku Tuanku Rao. Saat itu, mereka tinggal bertetangga di Siantar. Ibu Edith sendiri kala itu masih murid SD, sementara Sutan Martua Raja sudah tua.
Menurut ibu yang sudah berambut putih ini, orang Batak tidak tersinggung dan tidak perlu dendam membaca buku Tuanku Rao. "Sejarah kelam di Tanah Tapanuli jangan sampai menumbuhkan dendam. Kekerasan horizontal antarsuku ataupun atas nama agama/kepercayaan harus diakhiri. Mari kita membuka diri menerima fakta, bahwa orang orang Batak pernah kalah dalam Perang Paderi. Dan mari kita belajar dari sejarah, dengan tidak mengulangi perbuatan kekerasan. Karena sejarah memang sangat mungkin berulang," kata ibu yang saat masih gadis ini sudah menjabat sebagai Ketua PN Taput dan Dairi...’

Demikian juga buku yang ditulis oleh Basyral Hamidy Harahap (BHH), memaparkan penyerbuan tentara Paderi ke Simanabun yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai. BHH menuliskan a.l.: (lihat Weblognya: http://www.basyral-hamidy-harahap.com/blog)
‘… Sebagai penulis, ada debar-debum jantung saya ketika menulis bab Datu Bange di dalam buku ini. Bukan hanya karena bab ini bercerita tentang ketidak-berperikemanusiaanan, genocide, dan dendam yang membara. Tetapi karena ia juga bercerita tentang leluhur saya yang terus menerus melakukan perlawanan, sekalipun mereka sudah dalam posisi yang tidak menguntungkan. Sementara itu pasukan berbaju Putih yang mendengung-dengungkan agama, sambil menebas kepala manusia, membakari kampung, memperkosa, dan melakukan segala macam kebiadaban, terus mengejar musuhnya. Inilah yang membuat pihak Belanda jadi meleleh, dan terusik rasa kemanusiannya. Datu Bange dan rombongannya terus melakukan perlawanan. Secara spontan pasukan Belanda kemudian melindungi rombongan Datu Bange. Karena jika tidak demikian, sebuah tragedi kemanusiaan yang jauh lebih kejam pasti terjadi, yang bagaimanapun tidak akan bisa diterima manusia beradab !!!

Datu Bange dan pengikutnya yang tidak lain adalah leluhur saya, pada akhirnya berhasil memasuki daerah baru setelah menempuh medan yang berat, berliku-liku naik gunung dan turun lembah serta hutan belantara dengan jarak lebih dari 65 kilometer, dan kemudian mereka menetap di daerah Angkola dan Mandailing Godang. Walaupun untuk itu Datu Bange harus menebusnya dengan nyawanya sendiri…

Bahkan BHH menganggap dasar yang digunakan oleh panitia yang mengusulkan gelar Pahlawan Nasional untuk Tuanku Tambusai tersebut naif dan menjatuhkan harkat dan martabat Datu Bange. BHH menulis (Hlm. 67):
“… Pada masa itu daerah-daerah dataran tinggi yang penduduknya masih parbegu dan sering membuat kekacauan seperti merampok dan mengambil Budak yang meresahkan penduduk. Tuanku Tambusai ingin mengakhiri keadaan itu dengan melakukan gerakan terhadap kelompok parbegu tadi dipimpin oleh Datu Bange, Raja Siminabun yang bentengnya terletak di atas puncak bukit terjal di tepian sungai Batang Pane…”

BHH menulis bahwa Datuk Bange telah beragama Islam, namun tidak mau menerima aliran Islam yang dibawa oleh Tuanku Tambusai. Lama sebelum gerakan Paderi mereka sudah memeluk Islam. BHH menyatakan bahwa Datu Bange bukan perampok, melainkan Kepala Luat Dolok, raja paling kharismatik di Padang Lawas raya yang dicintai rakyatnya. BHH juga menonjolkan peranan ulama-ulama Sufi Mandailing yang menyebarkan agama Islam di daerah itu berabad sebelum Paderi datang. (Hlm. 68)
Memang Islam telah masuk ke Sumatera Utara sejak abad 8, dan kebanyakan beraliran Syiah. Selama ratusan tahun Islam dan agama asli Batak, Parmalim, serta penganut Hindu-Buddha dapat hidup berdampingan dengan damai.
Banyak kalangan –termasuk HAMKA- menolak isu tentang adanya pemerkosaan massal dan orgy tawanan perempuan oleh sebagian pasukan Paderi. Cerita tentang bagaimana anggota Paderi melampiaskan nafsu syahwatnya secara terbuka terhadap tawanan-tawanan cantik dituding Hamka sebagai khayalan Parlindungan belaka. Hamka juga menuduh cerita-cerita seks itu sengaja dipasang Parlindungan untuk menarik hati para pemuda ketimbang mencari data ilmiah. Di mata Hamka, Tuanku Lelo yang menurut Parlindungan bernama asli Idris Nasution itu tokoh karangan Parlindungan belaka. Sedangkan dalam bukunya, MOP menyatakan, bahwa Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyutnya.
Mengenai penculikan kaum perempuan di daerah yang telah ditaklukkan dan kemudian dijual sebagai budak, juga pernah ditulis oleh Rosihan Anwar di harian Kompas edisi Senin, 06 Februari 2006 dengan judul ’Perang Padri yang Tak Anda Ketahui’ , di mana tertulis:
“… Yang menarik ialah kebiasaan menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves). Kaum Padri melakukan ini di daerah Mandailing. Perdagangan budak masa itu sebuah gejala lazim…”

Di zaman penjajahan Belanda, perbudakan adalah hal yang resmi dipraktekkan. Bahkan ada undang-undang perbudakan, yang berlaku sejak tahun 1640 dan secara resmi baru dihapus tahun 1863. Namun pada kenyataannya, praktek perbudakan di wilayah jajahan Belanda masih berlangsung hingga akhir abad 19. Demikian juga dengan perkosaaan terhadap perempuan di daerah diserang dan telah dikalahkan atau diduduki. Hal ini masih terus terjadi hingga sekarang.
Dalam bukunya ‘Antara Fakta dan Khayalan’ -entah disadari atau tidak- HAMKA banyak membeberkan tindak kekerasan dalam penyebaran beberapa aliran Islam di Timur-Tengah, terutama yang dilakukan untuk menyebarluaskan sesuatu aliran atau mazhab. HAMKA juga menuliskan kekejaman Tuanku Nan Renceh yang sangat fanatik kewahabiannya, yang memerintahkan untuk membunuh adik ibunya, karena tidak mau mengikuti sembahyang. (Hlm. 238)

Mengenai pakaian putih yang dikenakan oleh para ulama di Minangkabau, HAMKA menulis, bahwa warna putih yang dikenakan oleh para ulama merupakan warisan dari agama Buddha. HAMKA menulis (Hlm. 303):
“… Bahkan warna putih itu mungkin sudah ada sejak orang Minangkabau masih memeluk Agama Budha. Biksu-biksu Budha berjalan dengan pakaian selendang putih meminta bakal (mungkin yang dimaksud adalah bekal – pen.) makanan kepada penduduk. Setelah datang Agama Islam pusaka secara Budha itu diteruskan oleh santri-santri di Minangkabau yang dinamai ‘Orang Siak’.: Mereka bersarung putih, berbaju dan celana putih meminta sedekah bekal mengaji tiap-tiap hari Kamis ke runah-rumah penduduk…”

Memang sulit untuk memberikan penilaian terhadap peristiwa atau hal-hal yang terjadi di masa lalu, dengan ukuran kemanusiaan sekarang. Juga apabila tidak ada atau kurangnya data, fakta dan dokumen yang dapat memperkuat cerita rakyat atau penuturan mengenai suatu peristiwa sejarah.

Referensi:
- Mangaraja Onggang Parlindungan, ‘Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak. 1816 – 1833.’ Cetakan kedua, Penerbit LkiS, Yogyakarta, 2007
- HAMKA, Antara Fakta Dan Khayal. “TUANKU RAO.” Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1964
- Basyral Hamidy Harahap, ‘Greget Tuanku Rao.’ Penerbit Komunitas Bambu, Jakarta, 2007.
- Beberapa Situs dan Weblog internet.